Uncategorized

Pengalaman Belajar Desain Grafis Secara Otodidak

Kali ini aku akan berbagi tentang bagaimana pengalaman belajar desain grafis secara otodidak. Terbukti semakin simpel sebuah desain, semakin rumit progresnya.

  1. Awal Belajar Desain Grafis
    Mulanya aku berpikir demikian simpel, just draw it. Gambar saja sebebas yang kamu inginkan. Tak perlu memikirkan beraneka hukum. Toh tidak ada hukum tentang desain sepatutnya seperti ini dan seperti itu. Di suatu kans, aku mencoba menggali memory digital, dan beruntung rupanya masih ada berkas desain yang pertama kali aku buat di tahun 2011, ini dia penampakannya.

Bagaimana? Sangat original dan spaceman slot semacam itu indah bukan? Pertanyaan berikutnya yaitu “apakah ini bisa disebut desain?” Tentu saja jawabannya “YES” ini yaitu desain. Tetapi kata “YES” tersebut berlaku hanya aku pada ketika itu. Mengaaat demikian? Sebab kata YES tersebut telah ganti status menjadi “NO, there is no design there.”

Gambar tersebut gak punya desain sama sekali. Mungkin kamu akan bertanya, “Loh, ko berubah? Gak tetap nih.” Perubahan status tersebut terjadi seiring dengan standard desain yang aku buat sendiri. Design skills itu sepatutnya berevolusi. Dan standard desain yang aku pegang ketika ini telah lebih tingi dibanding ketika itu.

  1. Underestimate Design
    Aku kesel banget sama orang yang meremehkan sebuah desain. Bila orang itu gak belajar design sih masih wajar, tapi yang lebih ngeselin yaitu orang yang baru belajar desain tapi berkeinginan hasil yang luar umum. Come on guys, desain itu berevolusi. Dan evolusi itu terjadi lewat pelaksanaan yang tidak sejenak.

Coba amati gambar desain pertama aku di atas, butuh waktu sekitar 2 hingga 3 hari buat memikirkan dan menyelesaikan gambar tersebut. Mungkin apabila ada guru yang mengantar bisa selesai lebih cepat, tapi bisa dikatakan aku belajar secara otodidak. Umumnya aku belajar hanya dengan mengandalkan searching google, youtube, atau dari blog tutorial desain.

Listen guys, balita umur 1 tahun umumnya mulai belajar untuk berdiri dan berjalan. Apakah di umur tersebut mereka berhasil berdiri hanya dengan 1 kali tes? Apakah mereka bisa berjalan melangkahkan kaki hanya dengan 1 kali tes? Pasti kita akan jawab “TIDAK.” Sama seperti desain, butuh pengulangan berkali-kali untuk bisa menghasilkan desain yang semakin bagus dan lebih bagus lagi. Mari kita sebut ini sebagai repetition.

  1. Make it Simple
    Waktu masih kuliah di Jogja, aku bersua dengan seorang kawan berinisial Mufid Salim. Kami bersua di sebuah komunitas buah hati muda yang masih eksis hingga ketika ini yaitu “Young On Top Yogyakarta.” Dikala itu aku diberi arahan untuk membikin sebuah desain dengan visual yang lebih simple/simpel tapi semua isu bisa tersampaikan dengan bagus dalam desain tersebut.

Tak bisa disampingkan, ketika itu kami berdua sama-sama terinspirasi dengan konsep simplicity design yang dibawa oleh Steve Jobs, founder Apple. Aku bahkan berupaya membikin sebuah design yang lebih simpel, dan berikut ini visualnya.

Dengan software/aplikasi yang sama, aku bisa menghasilkan mutu desain yang berbeda. Hingga di tahap ini, butuh pelaksanaan pelajaran yang berulang. Jadi tolong, buat yang baru banget belajar desain untuk jangan pernah berhenti belajar, repetition is a must. Gak akan pernah ada hasil yang instant.

  1. Gender Design
    Pertengahan 2017 aku hijrah ke ibukota Indonesia. Dan profesi pertama aku yaitu “gak terang.” Maksud aku, aku merangkap sebagian profesi seperti desain, administrasi, marketing, sampe tukang angkat barang.”

Di perusahaan tersebut aku mendapat kritik “desain kamu terlalu masculine.” Dalam hati aku berkata “ya terang lah, aku kan cowok sejati, jantan.” Hahaha.

Aku baru tahu apabila desain itu punya gender, ada masculine dan feminine. Berhubung produk perusahaan aku pada ketika itu banyak dikonsumsi oleh kaum hawa, maka dari itu desain aku banyak yang gak pantas diterapkan di sana. Coba amati ilustrasi berikut ini.

Keduanya memiliki macam produk yang sama yaitu susu, tapi jumlah mayoritas konsumennya berbeda. Produk sebelah kiri memiliki mayoritas konsumen pria, walaupun sebelah kanan mayoritas konsumennya yaitu wanita.

Observasi konsep desain yang ditampilkan oleh keduanya dan rasakan semua elemen desain yang diterapkan. Desain kemasan sebelah kiri menggunakan warna yang strong, hitam. Ditambah dengan lekuk wujud yang tajam seperti wujud persegi panjang, dll.

Kini rasakan konsep design kemasan sebelah kanan. Pemakaian warna yang lebih soft ditambah tidak ada wujud patahan atau lancip, tapi garis-garis yang melengkung.

Kedua kemasan tersebut tidak menampakkan foto pria maupun wanita, tapi dari kemasan tersebut tampak terang bahwa sebelah kiri yaitu produk dengan konsumen mayoritas pria, walaupun sebelah kanan yaitu produk dengan konsumen mayoritas wanita.

Jadi terang bahwa desain memiliki gender, masculine and feminine. Konsep ini diterapkan unuk beraneka macam pemakaian desain bagus untuk kemasan, publikasi iklan, social media, dll.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *